SMK Butuh 5.000 Guru

Ayooo !!! jadi guru ??? dibutuhkan 5000 guru katanya ??? yakin ??  ternyata bener loo Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) membutuhkan pasokan guru dalam jumlah yang cukup besar. Menurut perhitungan kasar, saat ini setidaknya dibutuhkan penambahan 5.000 guru SMK dengan berbagai jenis keterampilan kerja yang siap diterjunkan double shift.

Penambahan tenaga pengajar SMK tersebut, ”Tahun ajaran kali ini terdapat peningkatan peminat SMK yang signifikan. Tercatat 1,3 juta siswa mendaftar di SMK. Ini meningkat 25 persen dibanding tahun-tahun sebelumnya. Padahal, rasio penambahan jumlah SMK sendiri hingga 2008 baru 10 persen. Itu artinya, semua bangku yang ada di SMK terisi penuh termasuk SMK yang baru berdiri,” ujar Direktur Pembinaan SMK Depdiknas, Joko Sutrisno, kepada pers, Senin (14/7).

Menurut Joko, peningkatan jumlah peminat SMK tersebut membutuhkan penambahan jumlah pengajar yang tak sedikit. Jumlah guru SMK sendiri hingga sekarang tercatat 200 ribu guru. Dari jumlah itu, 130 ribu di antaranya berstatus PNS. ”Untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar tersebut, Depdiknas melalui Direktorat Pendidikan Kejuruan melakukan upaya diversifikasi guru SMK,” jelasnya.

Salah satu caranya, kata Joko, adalah dengan merekrut mahasiswa yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan PPL (Praktik Pengenalan Lapangan) untuk menjadi tenaga pengajar SMK. ”Program ini kami sebut sebagai KKN tematik. Jadi, sambil KKN, mahasiswa diminta menjadi guru di SMK,” tegasnya.

Joko menyatakan, tahun ini ada delapan perguruan tinggi yang sudah mengadakan memo kesepakatan kerja dengan Depdiknas untuk melaksanakan program KKN tematik. Perguruan tinggi itu, di antaranya Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya (ITS), Universitas Negeri Surakarta (UNS), Universitas Negeri Makasar, Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Medan, dan Universitas Gajayana Malang. Beberapa jenis keterampilan yang bakal diajarkan oleh mahasiswa ini, antara lain pertanian, ekonomi, bisnis, manajemen, dan teknologi.

Joko menjelaskan, pada tahap pertama KKN tematik akan menerjunkan 600 mahasiswa. Mereka akan terjun ke lapangan selama enam bulan berturut-turut. Lalu, pada semester berikutnya akan digantikan oleh mahasiswa lainnya. Para mahasiswa peserta KKN tematik ini, selain mendapatkan penilaian sebagai hasil dari penugasan kampus, juga akan memperoleh uang lelah dari Depdiknas. ”Nilainya untuk masing-masing mahasiswa sekitar Rp 1 juta per bulan. Ini uang bantuan transpor, bantuan makan, dan lainnya,” tegasnya.

Selain melalui KKN tematik, kata Joko, pemenuhan kebutuhan tenaga pengajar SMK juga akan dilakukan melalui pola kemitraan dengan dunia industri. Yakni dengan mengundang pihak industri untuk menjalin kerja sama dengan SMK-SMK, baik sebagai lokasi praktik kerja maupun dengan cara langsung mendatangkan pelaku industri ke SMK-SMK sebagai tenaga pengajar. ”Saya yakin dengan dua model kerja sama tersebut, kebutuhan tenaga pengajar SMK dalam waktu dekat ini akan terpenuhi. Setidaknya, kebutuhan tenaga pengajar untuk satu semester sudah terjamin,” jelasnya. Mau ???